Sejarah Dan Legenda Gunung Bromo
Sejarah Dan Legenda Gunung Bromo. Bromo merupakan tempat wisata alam populer di Jawa Timur, meskipun statusnya yang masih aktif namun banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia yang datang menyaksikan secara langsung keindahan gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini.

Perlu anda ketahui, di balik keindahan yang di miliki Bromo terdapat sejarah dan legenda yang di percaya turun temurun oleh masyarakat suku tengger yang merupakan penduduk asli kawasan Bromo.
Baca juga : Paket Wisata Bromo Dan Sekitarnya
Sejarah Dan Legenda Gunung Bromo
Gunung bromo yang di percaya sebagai gunung suci ini memiliki sejarah dan legenda yang bermula ketika seorang raja dari kerajaan Majapahit bersama para pengikutnya yang melarikan diri dari negerinya akibat serangan dari berbagai daerah, hingga akhirnya mereka terpisah menjadi 2 bagian, sebagian ada yang menuju ke pulau Bali dan sebagian lagi menuju lereng gunung bromo. Sampai sekarang kedua tempat ini memiliki kesamaan yaitu sama – sama menganut kepercayaan agama hindu.
Raja Majapahit kemudian membangun sebuah dusun di lereng gunung bromo bersama para pengikutnya yang setia. Di tempat tinggalnya yang baru itu istri raja majapahit melahirkan seorang bayi perempuan, bayi yang di idam idamkan itu akhirnya lahir ke dunia saat malam gelap gulita. Namun tidak seperti kebanyakan bayi lainnya, bayi perempuan tersebut justru tidak menangis dan tampak begitu tenang akhirnya suami istri yang berbahagia itu memberi nama bayinya “Roro Anteng” yang berarti perempuan pendiam dan tenang.
Di tempat lain di sebuah pertapaan yang tidak jauh dari rumah Roro Anteng di lahirkan, istri dari Brahmana atau Pendeta juga melahirkan seorang bayi laki-laki yang menagis sangat keras dan kuat memecah kesunyian malam di Bromo. Bayi itu tampak sehat dan bugar dan orang tuanya kemudian memberinya nama “Joko Seger” yang memiliki arti seorang laki – laki yang meiliki badan kuat dan sehat.
Seiring berjalannya waktu Joko Seger tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, sedangkan Roro Anteng tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Kecantikan roro anteng tersebar hingga ke berbagai penjuru dan menjadi pujaan banyak pemuda. Banyak sekali pemuda yang datang meminang Roro Anteng namun, tidak ada satu pun dari mereka yang di terima, rupanya putri cantik itu menjalin kasih dengan Joko Seger.
Legenda Munculnya Gunung Batok

Suatu hari kecantikan Roro Anteng sampai di telinga seorang pertapa sakti dan kejam berwujud raksasa yang tinggal di hutan sekitar lereng bromo bernama Kyai Bima. Saat mendengar hal tersebut Kyai Bima langsung datang melamar Roro Anteng dan mengancam jika lamaranya dii tolak maka ia akan membinasakan dusun itu beserta seluruh isinya.
Karena khawatir dengan ancaman Kyai Bima akhirnya Roro Anteng menemukan sebuah cara untuk menolak pinangan tersebut secara halus yaitu dengan mengajukan syarat kepada Kyai Bima yaitu membuat danau di atas Gunung Bromo dan harus selesai dalam waktu semalam sebelum matahari terbit.
Raksasa sakti mandraguna itu menyanggupinya sambil tertawa terbahak – bahak karena permintaan Roro Anteng sangatlah mudah baginya, akhirnya tanpa berlama lama lagi dia langsung mulai mengerjakannya.
Roro anteng sangat takut syarat itu berhasil akhirnya dia bermaksud menggalkannya dengan mengajak kaum lelaki di desanya membakar jerami di ufuk timur agar ayam jantan segera berkokok dan kaum perempuan di perintah untuk menumbuk padi di atas lesung.
Kyai Bima sangat kesal mendengar ayam berkokok dan merasa gagal memenuhi sayarat untuk menikahi Roro Anteng, kemudian tempurung/batok kelapa yang dia gunakan untuk membuat danau di atas gunung di lempar begitu saja ke tanah dan jadilah Gunung Batok.
Legenda Suku Tengger
Setelah masalah dengan Kyai Bima selesai kemudian Roro Anteng menikah dengan Joko Seger dan mereka pun hidup bahagia dan tentram di lereng gunung bromo.
Berdasarkan sejarah, nama suku tengger berasal dari suku kata awal dari kedua nama pasangan tersebut yaitu Anteng (Teng) dan Seger (Ger) kemudian di gabunglah menjadi Tengger.
Setelah bertahun – tahun lamanya pasangan suami istri itu belum juga di karunia keturunan, kemudian mereka berdua memutuskan untuk bersemedi di Gunung Bromo dengan harapan agar segera di berikan keturunan oleh Sang Hyang Widi, mereka juga bersumpah akan mengorbankan keturunan terakhir mereka ke dalam kawah bromo.
Asal Usul Upacara Kasada Bromo
Akhirnya, seiring berjalannya waktu pasangan suami istri itupun di karunia 25 orang anak dan putra terahir mereka bernama Joko Kusuma yang berparas tampan, tegas dan pemberani.

Pada suatu malam Joko Seger bermimpi di tegur oleh sang dewa untuk menepati janjinya mengorbankan putra bungsunya sebagai sesajen di kawah bromo jika tidak maka dewa akan mendatangkan bencana dan malapetaka. Kemudian Joko Seger menceritakan mimpi tersebut kepada Jaka Kusuma kemudian dengan bijaknya sang putra bersedia mengorbankan dirinya demi keselamatan keluarga dan warganya.
Kemudian pada saat bulan purnama tepatnya tanggal 14 bulan kasada, jaka kusuma menceburkan dirinya ke dalam kawah bromo sembari berucap berikanlah aku hasil ladang setiap tanggal 14 bulan kasada. Sejak saat itulah setiap tahunnya masyarakat asli lereng gunung bromo yaitu suku tengger mengadakan acara ritual kasada bromo.
Untuk anda yang ingin melihat langsung bukti fisik sejarah gunung bromo dan suku tengger serta tempat – tempat yang di ceritakan dalam cerita legenda silahkan booking paket wisata bromo murah denga tujuan eksplor seluruh area bromo, jika ada pertanyaan mengenai paket wisata lainnya silahkan hubungi kami wisatabromomurah.com.